-->

Ad Unit (Iklan) BIG

Panitia US Tidak Ada Konsumsi, Ketika Ditanya, Kepsek Malah Ngamuk Dan Pukul Guru

 





Anak Gadis Kepala Sekolah Oelbeba, Fatuleu bernama Elonora alias Rinn ikur Maki Dan Ancam Bunuh Korban, guru bernama Anselmus Nalle yang dikeroyok oleh kepala sekolah dan keluarganya. Rin mengatakan: "Bunuuh Sudah, Dia Sendiri Disini!"

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, bahwa Kepala SD Negeri Oelbeba Desa Oebola Kecamatan Fatuleu bersama istri dan anak mengeroyok seorang guru. Selain kepala sekolah (kepsek) dan keluarganya, warga sekitar juga ikut menganiaya guru tersebut.

Anselmus mengaku, orang-orang yang mengeroyoknya adalah kepala sekolah Alexander Nitti, istri kepala sekolah, Erna Nitti-Manu, anak kepala sekolah, Eleonora Chaterina Nitti bersama tiga oknum pemuda yakni Goris Tanone, Daniel Laot dan Roni Meko.



Kronologi Pengeroyokkan Guru Di Kupang
Aksi tersebut terjadi, Kamis (31/5) lalu saat rapat evaluasi ujian sekolah (US) dan persiapan penilaian akhir semester (PAS) yang dipimpin Kepala SD Negeri Oelbeba, Alexander Nitti. Saat rapat, guru yang menjadi korban pengeroyokan kepsek dan keluarganya, Anselmus Nalle mempertanyakan dana konsumsi saat pelaksanaan US. Sebab, saat US, tidak ada konsumsi untuk panitia dan guru.

Korban pengeroyokan, Anselmus Nalle kepada wartawan di Desa Penfui Timur, Minggu (5/6) menjelaskan, kejadian pengeroyokan dan penganiayaan terjadi, Selasa (31/5) saat rapat evaluasi. Pada sesi tanya jawab, Anselmus Nalle menanyakan dua hal. Yakni, kerja panitia US yang tidak didukung dengan konsumsi serta adanya laporan dari kepala sekolah terhadap dirinya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang soal SK tenaga fungsional umum yang masih dipegangnya.


“Ternyata beliau tanggapi dengan nada kasar langsung banting meja dan datang pukul saya di tempat duduk saya. Beliau pukul saya kena di bahu. Lalu beliau ambil kursi dan pukul saya pakai kursi. Pukul pertama saya sempat tangkis. Jadi kena di tangan yang sementara ada biru. Pukulan kedua saya sempat tangkis karena beliau pukul ser muka saya. Waktu yang bersamaan, anak pak kepala sekolah, Eleonora Chaterina Nitti pukul saya dari belakang, lempar saya dan maki u** to** segala macam tapi saya tidak respon karena anak perempuan. Anaknya honorer di SMP Negeri Fatuleu 7 Satap,” cerita Anselmus.

BACA JUGA:

Seteleh Eleonora Chaterina Nitti alias Rina memukul, lempar dan maki Anselmus, ia berlari keluar ruangan sambil berteriak kalau Anselmus telah memukul ayahnya hingga mati.

“Anaknya (Rina) lari keluar dan berteriak bahwa u** to** sudah pukul kasih mati bapak saya. Padahal saya tidak pukul. Ketika Rina lari keluar dan berteriak, kita sudah geser ke arah pintu istrinya (istri kepala sekolah, Erna Nitti-Manu) bawa kayu kering dan batu. Istrinya (Erna Nitti-Manu) sempat masuk dan pukul saya di dalam ruang rapat. Pukul kena di kepala terus lempar. Ada satu masyarakat namanya Iwan, dia masuk tarik dan seret saya. Tarik saya untuk keluar bilang kita ke rumah kepala sekolah. Tapi teman-teman yang melerai bilang jangan,” ujarnya.


Anselmus menjelaskan, bersamaan dengan itu ada beberapa oknum pemuda juga telah ada di TKP hendak memukul Anselmus. Karena takut, ia melarikan diri. Saat lari, beberapa oknum pemuda melemparnya.

Anselmus berlari ke lapangan, namun dikejar oleh kepala sekolah, Alexander Nitti bersama istri, Erna Nitti-Manu dan anaknya, Eleonora Chaterina Nitti bersama beberapa pemuda. Alexander Nitti masih memukul Anselmus di lapangan berulang kali.

BACA JUGA:



“HP saya dirampas. Yang rampas satu tanta disitu nama Demsy dan istri kepala sekolah, Erna Nitti-Manu. HP saya dirusak juga. Terus mereka seret kembali saya ke sekolah. Di sekolah yang sempat saya dengar bahwa bunuh kasih mati sudah, dia sendiri disini. Pu** m** kurang ajar segala macam. Itu makian dari anak dan istri kepala sekolah. Saya dipukul lagi oleh beberapa mantan anak sekolah yang pukul sambil maki saya di depan teras,” jelasnya.

BACA JUGA: 



Anselmus mengaku, ia selamat dari amukan kepala sekolah bersama keluarganya dan masyarakat setelah melarikan diri ke kantor desa. Tiba di kantor desa, sekretaris desa mengantar Anselmus ke cabang Sillu untuk melanjutkan perjalanan ke Polres Kupang untuk membuat laporan polisi.

“Saya serahkan semuanya pada proses hukum. Saya merasa terancam sekali. Hari Kamis saya sudah ke dinas untuk buat laporan dan informasikan ke dinas. Sebab, saya dan keluarga tidak nyaman dan tidak sejahtera. Saya tidak pernah ada selisih paham dengan kepala sekolah. Yang aniaya saya bukan hanya kepala sekolah. Kalau kepala sekolah saja tidak apa-apa karena masih jam dinas. Tapi ini istri, anak dan oknum pemuda juga ikut memukul saya,” katanya. (Sumber: harian Timeks)

REKOMENDASI UNTUK ANDA

Subscribe Our Newsletter